BONO atau Gelombang Bono
adalah fenomena alam yang biasa terjadi karena disebabkan pertemuan
arus pasang air laut dengan arus sungai dari hulu menuju hilir. Kata
Bono sendiri menurut Wak Soma Tokoh Masyarakat Teluk Meranti berasal dari sebuah cerita pada dulu kalanya, cerita ini telah menjadi cerita secara turun temurun, pada dulu kala orang Pelalawan
(Kerajaan Pelalawan) pergi berbelanja ke Malaka, saat itu mereka
menggunakan tongkang, sesampainya di Laut Embun (Teluk Meranti) Tongkang
yang mereka gunakan kandas terkena gelombang pasang. Lalu mereka
kembali ke Pelalawan dan melapor kepada Raja Pelalawan bahwa tongkang
mereka kandas dan tidak bisa melanjutkan perjalanan, tetapi raja
Pelalawan tidak percaya begitu saja dengan omongan warganya, kemudian
Raja Pelalawan mengutus beberapa orang untuk ke Teluk Embun untuk
membuktikan apakah benar apa yang dikatakan warganya dan juga diikuti
oleh beberapa orang sebagai saksi yaitu Anak Raja Pelalawan, Anak Raja
Ranah Tanjung Bunga (Langgam), Anak Raja Pagaruyung, Anak Raja Gunung Sahilan,
Anak Raja Macam Pandak. Apabila kemudian tidak terbukti omongan Para
warganya yang mengatakan kapal mereka telah kandas,maka sang Raja akan
memberikan hukuman mati kepada Sang Juru Kemudi tongkang . Sesampainya
mereka di Teluk Embun mereka menemukan gelombang pasang dan tongkang
mereka juga kandas, kemudian Anak Raja Pelalawan berkata kepada juru
kemudi Tongkang "Iya bono gelombang pasang kata kamu" (Ternyata Benar
yang kamu katakan). Bono sendiri adalah bahasa Pelalawan yang berarti
benar.
Bono biasanya terjadi pada setiap tanggal 10-20 bulan Melayu dalam tahun
Arab yang biasa disebut penduduk sebagai "Bulan Besar" atau "Bulan
Purnama". Biasanya "gelombang Bono" atau "Ombak Bono" yang besar terjadi
pada tanggal 13-16 bulan Melayu tahun Arab tersebut. Gelombang yang
terjadi biasanya akan berwarna putih dan coklat mengikut warna air Kuala
Kampar. Selain itu, Bono juga terjadi pada setiap "bulan mati" yaitu
akhir bulan dan awal bulan (tanggal 1) Tahun Arab.
Lokasi Ombak Bono atau gelombang Bono Sungai Kampar dapat kita jumpai di
Sungai Kampar Kecamatan Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan. Ada beberapa
titik yang biasa digunakan masyarakat sekitar untuk melihat Ombak Bono
salah satunya adalah Tanjung Sebayang atau Tanjung Bayang-Bayang, Di
Tanjung Sebayang ini Pemerintah kabupaten Pelalawan telah menyediakan
sebuah Pondok untuk masyarakat yang ingin menikmati Gelombang Bono.
Konon di Tanjung Sebayang ini terdapat sebuah Istana yang megah dan
cantik,namun istana ini tidak dapat dilihat dengan kasat mata, Istana
ini merupakan istana makhluk halus yang dikenal dengan nama Bunian.
Ombak Bono atau Gelombang Bono (Bono Wave)
terjadi ketika saat terjadinya pasang (pasang naik) yang terjadi di laut
memasuki Sungai Kampar. Kecepatan air Sungai Kampar menuju arah laut
berbenturan dengan arus air laut yang memasuki Sungai Kampar. Benturan
kedua arus itulah yang menyebabkan gelombang atau ombak tersebut. Bono
akan terjadi hanya ketika air laut pasang. Dan akan menjadi lebih besar
lagi jika pada saat air laut mengalami pasang besar (bulan besar)
diiringi hujan deras di hulu Sungai Kampar. Derasnya arus sungai akibat
hujan akan berbenturan dengan derasnya pasang air laut yang masuk ke
Kuala Kampar.
Awal akan terjadinya /ombak Bono/ diawali dengan bunyi gemuruh air.
Bunyi gemuruh ini semakin lama akan
semakin keras diiringi dengan besarnya
gelombang ombak Bono. Kecepatan gelombang ombak Bono mencapai 40 km/jam.
Tinggi gelombang bono tersebut mencapai 6 meter. Bahkan ombak Bono
mampu menyebabkan Banjir beberapa saat, biasanya perkampungan di Sekitar
Tepi Sungai kampar akan digenangi air lebih kurang 1jam dan ketinggian
air mengenangi kampung tersebut mencapai tinggi lutut orang dewasa.
Watch This Video


Tidak ada komentar:
Posting Komentar